Pandemi Covid-19 telah menerjang seluruh
negara di Dunia. Pemerintah negara berlomba-lomba melakukan kebijakan yang
paling efektif dan efisien untuk negaranya dalam menyelesaikan pandemi yang
luar biasa ini. Yang menjadi sangat sulit dikendalikan dari virus ini adalah virus
ini merupakan jenis virus baru dan penularannya sangat massif. Oleh karena
itu, kebijakan social distancing sangat cocok diberlakukan di seluruh negara
agar virus tidak mudah menular.
Di Indonesia sendiri orang
yang positif corona hingga saat ini terus meningkat. Keadaan ini diperparah
dengan ketidakdisiplinan warga untuk tetep di rumah. Tetapi, tak bisa
menyalahkan juga karena setiap orang memiliki kebutuhan hidup yang tidak
dijamin oleh negara. Yang menjadi geram adalah orang berada artinya keadaan
ekonominya sangat cukup, lalu dengan sengaja bepergian tanpa kepentingan yang
urgent. Orang yang taat pun serasa dikhianati lo.
Baca juga :
Baca juga :
Pemerintah Indonesia sudah sejak akhir Mei
menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), di mana hanya yang
berkepentingan urgent saja yang boleh keluar rumah. Seperti : Layanan makanan,
pengobatan, tenaga medis, logistik, dan beberapa perusahaan BUMN yang tetap diperbolehkan
beroperasi. Selain itu, masyarakat dihimbau untuk tetap di rumah saja.
Ramadhan 1441 H tahun ini harus berlangsung dalam
suasana pandemi. Sangat sedih, mengingat banyak kegiatan menyenangkan selama
Ramadhan terpaksa harus dibatalkan/ ditiadakan. Menyambut Ramadhan yang
biasanya sangat ceria dengan berbagai kebiasaan, tahun ini terpaksa tidak ada. Masjid yang biasanya ramai pun, saat ini sepi.
Berikut beberapa duka yang dapat saya
tuliskan berkenaan dengan pandemi corona saat bulan suci Ramadhan :
1.
Tidak bisa salat Tarawih di Masjid
Untuk menghindari
penyebaran virus covid-19, MUI mengeluarkan fatwa agar umat Islam bertarawih dab
berkegiatan keagamaan lainnya di rumah saja. Tidak perlu ke Masjid sepert
biasanya. Tentu saja ini menyedihkan. Mengingat momen shalat tarawih berjamaah
di Masjid inilah yang sangat ditunggu terutama oleh anak-anak. Masjid pun banyak
yang digembok, bahkan ada petugas yang mengawasi.
2.
Tak ada Takjil dan bukber
Biasanya setiap sore
menjelang maghrib, Masjid-masjid menyediakan menu takjil untuk jamaah. Ini
sangatlah berkesan bagi anak-anak yang belajar untuk mencintai masjid. Tapi khusus
tahun ini, itu tidak dibolehkan. Seluruh kegiatan di Masjid dihentikan. Bahkan buka
bersama yang biasanya ramai dijadwalkan orang-orang, tahun ini tidak ada. Berbeda
memang, sangat.
3.
Tidak ada I’tikaf
Menjelang akhir Ramadhan, orang
berlomba-lomba untuk I’tikaf di Masjid. Khusus tahun ini sepertinya tidak ada. Walau
begitu, I’tikaf atau mengingat Allah sebenarnya bisa dilakukan di mana saja,
termasuk di rumah.
4.
Tidak ada Shalat Ied
Nah ini juga momentum yang
menyedihkan. Biasanya shalat bareng dan bersalaman dengan banyak orang dengan
wajah semringah karena telah menang menaklukan sebulan berpuasa, tahun ini
dilarang untuk dilaksanakan. Terpaksa umat Islam harus shalat ied di rumah
masing-masing.
5.
Tidak boleh Mudik
Ini hal yang paling
menyedihkan terutama bagi perantau seperti saya. Momentum mudik yang Cuma setahun
sekali itu biasanya dipergunakan kami dengan sebaik-baiknya untuk bersilaturahmi
ke keluarga besar suami maupun saya. Kami pulang hanya setahun sekali yaitu pas
idul fitri itu. Tahun ini sepertinya mudik tak bisa lagi dilakukan. Mengingat adalanya
larangan dari pemerintah dan yang paling penting mencegah penularan covid-19.
Setelah bergelut dengan segala
perasaan, saya sudah menerima untuk tidak mudik tahun ini. Jika mau egois
sebetulnya sangat bisa, sangat bisa diakali. Apalagi Sekarang pemerintah
membolehkan orang yang memiliki surat keterangan kerja untuk mudik. Tapi saya mencintai
ibu saya. Mencintai kakak juga saudara-saudara saya. Caranya dengan tidak mudik
ini. Walau terus terang sangat berat. Saya kangen ibu saya, juga keluarga besar
saya. Apalagi Nenek saya meninggal awal tahun lalu pas saya tidak bisa datang. Tapi,
mau bagaimana lagi?
Tapi, kita tidak boleh larut dalam kesedihan, apalagi sedih
tak berujung. Ayo bangkit karena ada keseruan dan kegembiraan tersendiri saat Ramadhan
bertepatan dengan ujian pandemic ini. Apa saja sih keseruannya?
1.
Berjamaah komplit
Dengan adanya himbauan
untuk seluruh masyarakat agar diam di rumah saja termasuk juga yang bekerja,
otomatis membuat para ayah WFH (work From Home). Yeaaay, baru Ramadhan ini kan
ayah ada terus siang dan malam di rumah? Bagi saya sih lebih tenang, walau pun
tetap saja dianya mah sibuk sama laptop. Memang bukan liburan sih, Bu, tapi
bekerja tapi di rumah. Ingat itu ya! Dengan keberadaan ayah, otomatis membuat
suasana Ramadhan jadi lebih berbeda. Apalagi jika ayah selalu mengimami shalat
tarawih, serasa beda banget lo. Yang biasanya shalat tarawih di Masjid, lalu di
rumah dengan imam ayahnya anak-anak. Ini sih sejarah banget! hahaha
2.
Lebih erat lagi dengan keluarga
Selama pandemi, seluruh
anggota keluarga berkumpul. Dengan kumpul, mau tidak mau kita harus melakukan
hal bersama. Secara tak sadar, menimbulkan saling pengertian yang selama ini
dianggap sepele dan menyebalkan lo. Contohnya : saya jadi tahu bagaimana kerja
suami saya. Kenapa kalau di rumah dia irit ngomong? Ya karena selama kerjanya
dia terus-terusan ngomong ke anak buahnya. Sekali nelpon itu bisa berjam-jam,
dan tahu sendiri kan kalau laki-laki itu lebih irit kebutuhan bicaranya dari
perempuan. Makanya saat pulang ke rumah, ya udah capek ngomong dia haha.
Suami saya juga jadi tahu
saya ngapain saja selama di rumah. dia mulai rajin bantuin terutama kalau sabtu
minggu karena kan libur. Kami juga lebih mengalir, yang biasanya sering
sebel-sebelan wkwk. Saya pribadi juga bisa lebih dekat dnegan anak terutama
yang sulung, karena setiap hari biasanya kan sekolah full day sampai sore.
3.
Lebih kreatif
Pandemi saat Ramadhan ini
terus terang membuat orang-orang bosan karena harus di rumah saja. Orang berlomba
melakukan hal yang mengasyikkan agar tetap waras. Ada yang mencoba menerusakan
hobi lama, misal : hobi jahit lalu menjahit masker, berkebun, merajut, memasak
dan lain-lain. Orang tua juga akan berusaha menyediakan pembelajaran untuk
anak-anaknya yang sudah lama School From Home. Bagaimana dengan bahan
yang ada di rumah, tapi bisa buat anak kreatif. Saya sendiri melampiaskan kekesalan saya dengan mencoba banyak resep dan menghidangkannya untuk keluarga. Ketika keluarga suka, saya sangat senang.
Bahan promosi |
4.
Lebih produktif
Bagi Sebagian orang, bisa
jadi pandemic selama Ramadhan ini ibarat anugerah karena bisa lebih produktif
dari rumah. Dia bisa lebih bebas menulis, melukis atau melakukan kegiatan
produktif lainnya yang selama ini tak bisa dilakukan karena terjebak rutinitas.
Bahkan ada banyak orang yang mencoba hal-hal baru dari rumah. Saya mencoba beberapa hal baru seperti : edit video, upload youtube dan foto bersama buku sendiri (bahan promosi). Padahal biasanya nggak sempat melakukan hal seperti ini karena merasa ada hal yang lebih penting lagi. hehe...
Hasil kreativitas di dapur haha (Bolu Kukus Milo) |
Cakue kesukaan ayah dan si sulung. |
Tomyam Seafood |
5.
Lebih bersyukur
Keadaan yang sekarang ini
tentu saja sangat tidak nyaman. Berada di rumah saja dengan terror penyakit
yang katanya ganas, tentu membuat siapa pun ketakutan minimal khawatir. Dengan
dihentikannya segala rutinitas kita, kita jadi menghargai segala kebebasan yang
dulu sering kita anggap sepele. Kadang kita tahu arti bersyukur ketika sudah
berada dalam keadaan tak baik-baik saja.
Mari teman-teman jadikan bulan
suci Ramadhan yang hanya tinggal sebentar lagi ini dengan melakukan ibadah
lebih giat lagi. Mari kita syukuri segala nikmat yang kita tidak sadari selama
ini. Betapa Allah selalu memberikan kenikmatan pada kita. Dan Allah selalu memberikan
yang terbaik. Semoga Ramadhan tahun depan kita sudah bisa melakukan aktifitas ibadah
di Masjid seperti biasanya, aamiin.
Itulah
suka duka menjalani puasa saat pandemic Covid-19. Semoga kelak bisa dibaca oleh
cucu-cucu saya bahwa beginilah saat pandemic corona 2020 di Indonesia. Apa pun
kejadiannya, yang terpenting memberikan hikmah terbaik untuk kita. Semoga covid-19
segera teratasi di negeri Indonesia tercinta ini. Semoga pemerintah bisa
bersikap tegas dan diberikan kekuatan oleh Allah agar bisa menyelesaikan pandemic
ini dengan baik. Jangan lupa untuk selalu memperhatikan sekitar, siapa tahu ada
tetangga yang membutuhkan uluran tangan kita. Saat inilah sedekah sangat
berarti untuk orang lain.
EmoticonEmoticon